Di era digital, persaingan bisnis bukan cuma soal siapa yang paling ramai iklan, tapi siapa yang punya brand paling kuat dan paling jelas di mata target market. Di sinilah peran brand strategist jadi krusial: bukan hanya mengurus logo atau tagline, tapi merancang pondasi strategis brand-mu supaya semua aktivitas marketing punya arah yang jelas dan konsisten.
Buat kamu pemilik bisnis atau decision maker yang sedang mencari partner untuk menguatkan brand, artikel ini akan membahas cara memilih brand strategist yang tepat, plus alasan kenapa kamu bisa mulai dari StudioSoft sebagai partner strategismu.
Apa itu brand strategist
Sebelum memilih, kamu perlu paham dulu siapa yang sebenarnya kamu cari.
Brand strategist adalah profesional yang fokus merancang strategi merek secara menyeluruh: mulai dari memahami bisnismu, menganalisis pasar dan kompetitor, sampai menyusun positioning, diferensiasi, dan arah komunikasi brand. Output mereka biasanya berupa:
- Brand strategy document (brand purpose, visi, nilai, positioning, segmentasi, dsb.)
- Brand narrative dan messaging (story, tagline, key message untuk berbagai kanal)
- Arah identitas visual dan verbal (tone of voice, gaya komunikasi, guideline konten)
- Rekomendasi implementasi di kanal digital (website, social media, campaign, bahkan offline touchpoints)
Bedanya dengan jasa desain atau jasa konten biasa adalah: brand strategist bekerja di level strategi, bukan hanya eksekusi. Ibaratnya, dia menyusun peta besar, baru setelah itu tim desain, tim konten, dan tim ads menjalankan peta tersebut.
Kenapa kamu butuh brand strategist, bukan sekadar “jasa promosi”
Banyak bisnis terjebak pada mindset “yang penting iklan jalan” tanpa punya fondasi brand yang jelas. Akhirnya:
- Iklan ganti-ganti konsep tanpa arah
- Pesan marketing tidak konsisten
- Target audience bingung, brand kamu ini sebenarnya posisinya di mana
- Budget marketing bocor karena setiap campaign seperti coba-coba
Brand strategist membantu memotong fase “coba-coba mahal” ini dengan:
- Mengklarifikasi siapa target utama brand-mu
- Menentukan value utama dan diferensiasi yang ingin kamu tonjolkan
- Menyusun positioning yang relevan dan kompetitif
- Mengarahkan channel dan jenis konten yang paling tepat untuk brand-mu
Jadi, ketika kamu invest di ads, konten, atau website, semuanya bergerak dalam satu garis besar yang sama.
Cara memilih brand strategist yang tepat untuk bisnismu
Bagian ini bisa kamu jadikan checklist sebelum menghubungi atau deal dengan seorang brand strategist atau agency.
1. Punya pendekatan strategis, bukan cuma visual
Brand strategist yang bagus tidak berhenti di logo dan tampilan feed yang estetik. Dia akan:
- Mengawali kerja dengan discovery session: tanya tentang bisnis, model pendapatan, target market, dan tantangan yang kamu hadapi
- Melakukan riset dasar: market, kompetitor, dan tren perilaku audience
- Menghasilkan insight, bukan hanya deliverable visual
Saat berdiskusi, perhatikan:
Apakah dia banyak bertanya soal “siapa targetmu, apa value yang kamu bawa, apa problem utama konsumen,” atau langsung lompat ke “nanti logonya gini, design-nya gitu”? Brand strategist yang tepat akan fokus dulu ke problem dan tujuan bisnis.
2. Jelas dalam menjelaskan proses kerja
Brand strategy bukan pekerjaan satu malam. Biasanya ada tahapan yang cukup jelas, misalnya:
- Discovery & diagnosis (memahami bisnis, target, dan masalah)
- Riset & analisis (market, kompetitor, insight audience)
- Perumusan strategi (brand purpose, positioning, diferensiasi, brand personality)
- Penyusunan brand guideline dan messaging
- Translasi ke kanal digital (website, social media, konten, campaign)
- Monitoring dan penyesuaian
Pilih brand strategist yang bisa menjelaskan proses ini dengan bahasa sederhana, tapi tetap logis. Kalau dari awal mereka sudah bisa menunjukan alur yang runut, itu tanda mereka punya framework, bukan sekadar jalan sambil improvisasi.
3. Memiliki portofolio dan studi kasus yang relevan
Portofolio itu penting, tapi kamu tidak hanya melihat “tampilannya bagus atau tidak”. Perhatikan:
- Apakah mereka pernah menangani bisnis dengan karakter mirip punyamu (UMKM, klinik, F&B, jasa profesional, B2B, dll.)
- Apakah di cerita portofolionya disebutkan problem awal klien, pendekatan strategi, dan hasilnya (misal: brand jadi lebih jelas posisinya, pesan komunikasi lebih kuat, respon audiens membaik)
- Kalau pun belum banyak case yang besar, lihat bagaimana cara mereka menjelaskan reasoning di balik sebuah brand decision
Brand strategist yang baik biasanya bisa bercerita: kenapa brand ini diposisikan seperti itu, kenapa tone of voice-nya seperti ini, dan kenapa visualnya dipilih seperti itu.
4. Mampu mengintegrasikan branding dengan digital marketing
Brand tanpa implementasi digital yang kuat akan sulit terasa dampaknya. Idealnya, brand strategist:
- Paham channel digital: website, SEO, social media, ads, email marketing, dll.
- Mampu mengarahkan bagaimana brand strategy diwujudkan dalam konten, campaign, dan UX digital.
- Mengerti cara membaca data (reach, engagement, CTR, conversion) sebagai feedback untuk memperkuat strategi brand.
Kombinasi antara mindset branding dan skill digital marketing inilah yang bikin strategi tidak berhenti sebagai dokumen, tapi benar-benar hidup di lapangan.
5. Punya kemampuan komunikasi dan kolaborasi yang baik
Brand strategist akan bekerja bareng banyak pihak: owner, tim marketing, tim desain, bahkan tim sales atau operasional. Karena itu, penting untuk melihat:
- Apakah mereka bisa menjelaskan konsep kompleks dengan bahasa yang mudah dipahami
- Apakah mereka mau mendengar realitas lapangan dari kamu dan tim (bukan memaksakan konsep yang “teoritis” saja)
- Apakah mereka terbuka untuk berkolaborasi, bukan sekadar menjadi “konsultan yang memberi perintah”
Brand yang kuat lahir dari kombinasi perspektif strategis dan kenyataan operasional bisnis.
Kenapa kamu bisa mulai dari StudioSoft
Setelah tahu cara memilih brand strategist, pertanyaannya: harus mulai dari mana?
StudioSoft bisa menjadi titik awal yang tepat, terutama kalau kamu:
- Sudah berjalan di ranah digital (punya social media, mungkin sudah pernah pasang iklan) tapi merasa brand-mu masih “abu-abu”
- Bingung bagaimana menyatukan identitas brand, konten, dan aktivitas marketing dalam satu arah yang rapi
- Butuh partner yang paham strategi, tapi juga siap bantu eksekusi digitalnya
Beberapa hal yang bisa kamu tonjolkan tentang StudioSoft dalam artikel:
- Menggabungkan keilmuan brand strategy dan digital marketing
StudioSoft tidak hanya membantu mengelola channel digital (website, SEO, social media), tapi juga memperhatikan bagaimana semua itu align dengan positioning dan karakter brand-mu. - Familiar dengan konteks bisnis lokal
Dengan pengalaman menangani beragam klien, StudioSoft paham pola perilaku audiens lokal dan tantangan bisnis di lapangan, sehingga strategi yang dirancang tidak sekadar ideal di atas kertas. - Pendekatan kolaboratif
StudioSoft bisa memulai dari sesi konsultasi dan diagnosis, membantu memetakan posisi brand-mu sekarang, lalu menyusun langkah strategis yang bisa langsung diturunkan ke campaign atau konten.
Kalau kamu merasa bisnismu sudah aktif di ranah digital tapi brand-nya belum punya arah yang jelas, mungkin saatnya ngobrol dengan brand strategist. StudioSoft siap membantu kamu memetakan posisi brand, menyusun strategi yang relevan, dan menerjemahkannya ke eksekusi digital yang terukur.
Kamu bisa mulai dari sesi konsultasi singkat: ceritakan kondisi bisnismu, tujuan yang ingin kamu capai, dan biarkan tim StudioSoft membantu menemukan jalur strategis yang paling pas untuk brand-mu





